Selasa, 29 Oktober 2013

[Review Novel] First Time in Beijing by Riawani Elyta




Nostalgia kisah cinta semusim lalu




Judul : First Time in Beijing
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bukune
Tahun Terbit : 2013
Kategori : Novel fiksi
Genre : Travel Literature, Romance
Harga : Rp. 55,000


Sinopsis :

“Saat pahitnya kenyataan mengitari gadis itu dari segenap arah, dia hanya punya satu pilihan : menjalaninya.”

Langit Kota Beijing berpesta, pijar warna kembang api terlontar berganian ke angkasa. Gemuruh seketika melenyapkan suara-suara yang meriung di segenap kota. Namun, hati gadis itu senyap, bagai butir salju yang musim lalu jatuh di balik jendela.

Di Kota ini, kakinya menapak pasti di tangga-tangga Tembok Raksasa yang berkuasa. Ia mulai jatuh cinta pada kota ini, pada aura ganjil gerbang Kota terlarang yang dahulu dilewati raja-raja. Mungkin pula, ia telah jatuh cinta kepada dia --- laki-laki itu --- dalam aroma rempah yang menguar dari sup hangat hasil racikan tangannya.

Kemarin, di Tembok Raksasa, ia tergelincir karena kerikil kecil. Kakinya sempat tak setia. Namum, kesetian tetap membutuhkan kerikil, bukan? Agar kita tahu apakah satu kerikil saja bisa menghancurkan kesetiaan yang telah dipupuk.

“Mungkin ini salahku, tak mendengar suara hati saat berada di dekatmu.”
Lisa menatap dalam mata senja, membayangkan laki-laki itu berada di sana. Menunggunya.
****


Novel First Time in Beijing adalah salah satu dari sepuluh novel seri Setiap Tempat Punya Cerita Season I. Novel ini berhasil menarik perhatian saya dengan judulnya yang membuat saya penasaran tentunya akan isi dari ceritanya.

Berkisah mengenai perjalanan Lisa untuk pertama kalinya ke Negeri tempat kelahiran Ayahnya. Ya First Time in Beijing.. membawa Lisa akhirnya dapat bertemu dengan Ayah kandungnya setelah berpisah belasan tahun lamanya. Setelah kepergian sang Ibunda ia diminta oleh Ayahnya untuk tinggal di Kota Beijing bersama dengan keluarga baru Ayahnya.

Ternyata rasa pahit setelah kehilangan orang yang Lisa cintai kembali terjadi. Ketika dirinya merasa asing saat bertemu dengan keluarga barunya. Dua kakak laki-laki tiri, seorang adik perempuan tiri, dan juga Ibu tiri. Mereka seperti tak menghiraukan kehadiran Lisa di tempat tinggal mereka.

Keinginan Lisa untuk dapat mengenyam pendidikan di negeri ini pun harus pupus karena keinginan sang Ayah agar Lisa dapat terus melanjutkan bisnis restoran milik ayahnya. Tanpa ayahnya duga, ternyata putrinya itu tidak bisa memasak dan tidak mengerti bagaimana cara memasak suatu makanan kecuali mie instant.

Lisa kembali harus beradaptasi dengan orang-orang yang baru dikenalnya di lingkungan restoran milik ayahnya. Dia juga disuruh oleh ayahnya untuk mengikuti kursus bahasa agar dapat berkomunikasi dengan bahasa penduduk sekitar.

Tak hanya perjuangan dan kerja keras yang harus ia lakukan selama bekerja di restoran ayahnya. Tapi juga gejolak perasaan aneh yang menghampiri dirinya dengan salah seorang juru masak restoran tersebut. Perasaa yang tiba-tiba menjadi cinta namun tak berani ia ungkapkan. Dan pada akhirnya ia bertemu dengan Alex, pria pemandu wisata asal Indonesia yang kini menjadi teman dekat Lisa di Kota ini.
***

Novel ini berhasil membangunkan mood saya untuk kembali mulai membaca lagi. Isinya yang mengalir juga bagian-bagian yang mampu membuat saya ketika membacanya geregetan adalah hal menarik lainnya dari novel ini. Ada haru yang juga terselip ketika saya membaca novel ini pada halaman 121-122. Keharuan yang mengingatkan saya akan kenangan bersama dengan almarhum ayah saya semasa beliau masih hidup.

Banyak fakta yang menarik yang ditulis dalam novel ini. Tentang latar belakang tokoh dalam novel ini dan juga bagaimana kehidupan para tokohnya. Perasaan yang dikelola dan dibuat seperti dalam kebimbangaan ketika seseorang menyatakan cinta.

Setting tempat yang mampu mendeskripsikan kedaan yang ada di Kota Beijing juga membuat pembaca mampu berimajinasi dalam halaman demi halaman novel ini. Kultur dan budaya yang digambarkan juga mengingatkan saya tentang kebenaran akan apa yang memang terjadi di kehidupan nyata.

Emosi para tokoh tertuang dengan apik, dan mampu memainkan emosi pembaca ketika melahap novel ini. Konflik yang dibentuk juga beragam dan tak menjenukhan untuk dibaca. Semua kembali kepada waktu yang akan menjawab itulah isi dari novel ini.

Banyak kata-kata indah yang terangkai dari novel ini yang mengalir begitu saja bagaikan motivator untuk diri saya pribadi.

“Kehilangan dapat berubah menjadi berkah! Hanya saja, aku belum mampu melihatnya. Mungkin nanti, di akhir perjalanan ini.” – Lisa


“Aku percaya, impian adalah wujud prasangka manusia pada Tuhan. Suatu hari nanti, Tuhan pasti akan mendekatkan kita pada impian itu, sepanjang kita pun berusaha keras untuk meraihnya.” - Lisa


“Kesulitan seharusnya mendorong kita untuk menaklukkannya, bukan malah membuat kita menyerah.” – Daniel
“Waktu memang selalu berputar lebih cepat dari kesadaran kita. Tapi kamu percaya, kan? Kalau kekuatan cinta bisa membuat hal-hal tak terduga bisa terjadi di muka bumi?” – Al

Cerita cinta yang membuat saya ketika membacanya menebak-nebak akankah Lisa berjodoh dengan Daniel ataukah dengan Alex.


2 komentar:

  1. terima kasih yaa untuk reviewnya yang keren :) terima kasih juga udah membaca Beijing :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe novelnya keren banget kak :D.
      Menginspirasi aku untuk di kehidupan nyata.
      Dan terima kasih banyak sudah mampir di review ini :)

      Hapus