Tanpa
Judul.
Bukan
karena malas memberi judul tapi justru bingung judul apa yang mau ditulis.
Awalnya sempat terpikir akan judul “From Jakarta to Bandung with Love” *eaa
maksud Love disini sendiri ya itu karena kisah ini merupakan kisah tentang
perasaan cinta *eaaa lagi hahaha..
Tapi
ragu akan judul itu (red: judul From bla..bla..bla) dan malah mikir-mikir judul
yang pas tapi ga nemu di rak-rak dalam memori otak ini (berasa Sponge Bob
fiuhh) ya sudahlah jadinya tulisan ini diberi judul yaaaa “Tanpa Judul”
hahaha. Jangan pusing yaaa ;))
Kisah ini tidak untuk dimengerti
ataupun dipahami simak sajalah kisah ini seperti waktu yang terus berganti.
Tanpa kita tahu dimana ujungnya dan seperti apa akhir dari perjalanan dan
perjuangan dari sang pelaku.
Mungkin ada yang salah dengan
perasaan ini. Mungkin kurang tepat jika harus merasakannya sedangkan kita masih
terlalu dini dalam mengenal satu sama lain. Yaa peraasaan bersalah dan tidak
tepat akan situasi ini pun akhirnya disadari sang pelaku. Kini dia sadar bahwa
dia belum mengerti apa arti cinta kepada lawan jenis. Yaa karena selama belasan
tahun dalam hidupnya Ia hanya mencintai keluarganya begitu juga sebaliknya. Yaa
perasaan cinta yang murni dan sangat murni yang gadis itu terima dan berikan
kepada kedua orangtuanya serta keluarganya yang lain belum pernah Ia bagi
sebelumnya dengan pria manapun dalam hidupnya.
Duka itu memang perih rasanya tak
bisa habis dan hilang dalam sekejap. Gelisah dan kecewa sempat harus Ia rasakan
dikala ia mengalami hal yang sedemikian rupa ini. Cinta ia masih tak mengerti
arti cinta kepada lawan jenis. Mungkin dia akan mengerti suatu saat nanti
bersama pangeran berkuda putihnya nanti.
Konyol rasanya kalau memikirkan
kembali apakah benar yang ia rasakan itu bernama cinta atau hanya sekedar angan
belaka. Ingin rasanya belajar dan menuntut ilmu tentang cinta. Ahhh andaikan
saja itu memang benar ada. Ya tempat kita bisa belajar mengerti cinta kepada
lawan jenis tanpa rasa main-main tentunya.
****
Keberangkatannya di minggu pagi
tak iring membawanya akan secercah angan tentangnya. Tentang pria itu. Pria
yang baru dikenalnya sepintas lalu. Pria yang membuatnya mabuk-kepayang.
Bayangan akan sosok pria itu pun menghantuinya di setiap denyut nadi gadis itu.
Bahkan ketika tidur pun ia masih bisa bertemu dengan sosok pria itu di alam
mimpinya. Suatu hal yang sangat menakjubkan bagi gadis itu. Karena sampai detik
ini ia masih bingung bagaimana caranya agar dapat menyingkirkan sosok pria itu
didalam relung hati dan pikirannya. Berbagai macam cara telah coba ia lakukan.
Mendengarkan lagu yang menurutnya seperti motivator untuknya agar dapat
melupakan pria itu tapi nyatanya itu hanya sia-sia belaka yang tak berujung.
Karena sampai detik ini pun ia masih memikirkan pria itu disetiap detik denyut
nadinya.
Keberangkatan yang gadis itu
lakukan menurutnya merupakan petualangannya atau kelananya akan cinta. Besarnya
doa dan cinta yang selalu menyertai
gadis itu dari sang ibundanya tercinta membuat gadis itu memberanikan diri
melakukan perjalanan singkatnya itu untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya
itu. Perjalanan yang bagi sebagian orang tidak ada artinya. Perjalanan mencari
dan terus mencari. Mencari tahu apakah ia dapat bertemu kembali dengan pria
pujaan hatinya tersebut ataukah hanya harapan kosong yang akan ia bawa pulang
nantinya. Gelisah pun menyelimuti dirinya. Akankah ia bisa bertemu kembali
dengan sosok itu. Dan apakah niat yang digenggamnya erat itu sudah sangat bulat
untuk dapat bertemu kembali dengan pria satu itu. Ya satu dan satu-satunya yang
saat ini berhasil merobek perhatian gadis itu akan ketertarikan dengan lawan
jenis. Selain bayangan akan memori tentang almarhum ayah sang gadis yang tak
pernah luntur sedetikpun dari pikiran gadis itu.
Semangat juangnya harus patah
oleh keadaan. Kecewa namun tak berhak untuk menuntut. Itulah yang gadis itu
rasakan hingga saat ini. Namun satu hal yang pasti ia rasakan. Ia bahagia
dengan perjalanannya ini. Karena baginya pergi seorang diri ketempat yang
sebelumnya belum pernah ia datangi, dan
tak mudah untuk melakukan hal itu mungkin bagi gadis lain seumurannya. Ahh
entahlah atau mungkin memang ada gadis-gadis unik seperti dirinya itu di dunia
ini. Melawan rasa takut dengan rasa keberanian, tekad, niat, doa, dan usaha
yang masih bagaikan butiran debu itu membuatnya harus kembali berpikir. Akankah
dia akan tetap memikirkan pria itu atau tidak. Pria yang dihormatinya karena
perlakuannya yang luar biasa sangat menghargai seorang wanita (sebut saja dari
keluarga pria itu).
Tak ada dendam apalagi keinginan
untuk membenci pria itu. Hanya saja ia kini kembali berpikir dan berkata pada
dirinya sendiri. Bukan aku ataupun aku dan dia (red: pria pujaan hati sang
gadis) yang akan bersama-sama nanti. Mungkin kita akan memiliki pasangan
masing-masing dan saling hidup bahagia bersama pasangan masing-masing.
Tapi dia masih saja berpikir
untuk terus melakukan banyak hal agar dapat melupakannya. Dan bagaimana bisa
semakin ingin melupakan tentangnya semakin susah pula raga ini melupakannya.
Tanpa hasil. Itulah yang terjadi.
Dan seperti apa yang gadis itu selalu sediakan. Ia selalu menyiapkan kantong
emosi. Ya emosi untuk bersabar dan menerima kenyataan bahwa ternyata ia hanya
membawa pulang kekosongan dalam benaknya. Kosong dan hampa. Berpikir kembali
mengapa bisa terjadi seperti ini. Dia memang telah menyiapkan dan selalu
menyiapkan perasaan akan setiap apa yang akan terjadi pada dirinya. Gadis yang
berhati tulus itu terus-menerus memikirkan akan hal positif yang sedang
terjadi. Mungkin bukan salah sang pria karena akhirnya mereka tidak dapat
bertemu pikir gadis itu kemudian. Mungkin memang kali ini bukan waktu yang
tepat untuk mereka bertemu kembali. Sang gadis hanya pasrah dan hanya bisa
meluapkannya dengan butiran kecil mutiara yang diproduksi oleh kedua bola mata
indahnya. Merenungi didalam perjalanan pulangnya. Merenung ini bukanlah kesalah
pria itu. Melainkan kesalahan gadis itu sendiri karena terlalu berangan akan
hal indah yang akan ia lalui bersama pria itu. Yang akhirnya harus diterima
gadis itu dengan kekecewaan dan kepahitan yang teramat-sangat. Tak ada kata
menyesal sedikitpun. Hanya saja sedikit rasa haru mampir dalam diri gadis itu.
Sepi senyap hampa kosong dan mungkin tragis dapat sedikit menggambarkan tentang
perasaannya saat itu. Kemudian hambarlah yang kini menyelimuti keduanya. Tak
ada lagi kabar yang gadis itu dapatkan tentang pria pujaan hatinya itu. Kini
gadis itu hanya berharap agar pria itu selalu mendapatkan kebahagian yang dia
inginkan.
Sebenarnya sih mbak, semakin kita mencoba melupakan semakin sulit kita melakukannya jadi sibuk lah dengan aktivitas :D
BalasHapusYaa bener semakin ingin dilupakan justru membuat beberapa org malah makin galau karena bayangan akan org tsb justru selalu muncul.
HapusSelain coba banyak kegiatan salah satu caranya ya memang harus benar2 move on hehehe :D.