Kamis, 24 Oktober 2013

Tanpa Judul.


Tanpa Judul.


Bukan karena malas memberi judul tapi justru bingung judul apa yang mau ditulis. Awalnya sempat terpikir akan judul “From Jakarta to Bandung with Love” *eaa maksud Love disini sendiri ya itu karena kisah ini merupakan kisah tentang perasaan cinta *eaaa lagi hahaha..


Tapi ragu akan judul itu (red: judul From bla..bla..bla) dan malah mikir-mikir judul yang pas tapi ga nemu di rak-rak dalam memori otak ini (berasa Sponge Bob fiuhh) ya sudahlah jadinya tulisan ini diberi judul yaaaa “Tanpa Judul” hahaha.  Jangan pusing yaaa ;))


Kisah ini tidak untuk dimengerti ataupun dipahami simak sajalah kisah ini seperti waktu yang terus berganti. Tanpa kita tahu dimana ujungnya dan seperti apa akhir dari perjalanan dan perjuangan dari sang pelaku.


Mungkin ada yang salah dengan perasaan ini. Mungkin kurang tepat jika harus merasakannya sedangkan kita masih terlalu dini dalam mengenal satu sama lain. Yaa peraasaan bersalah dan tidak tepat akan situasi ini pun akhirnya disadari sang pelaku. Kini dia sadar bahwa dia belum mengerti apa arti cinta kepada lawan jenis. Yaa karena selama belasan tahun dalam hidupnya Ia hanya mencintai keluarganya begitu juga sebaliknya. Yaa perasaan cinta yang murni dan sangat murni yang gadis itu terima dan berikan kepada kedua orangtuanya serta keluarganya yang lain belum pernah Ia bagi sebelumnya dengan pria manapun dalam hidupnya.


Duka itu memang perih rasanya tak bisa habis dan hilang dalam sekejap. Gelisah dan kecewa sempat harus Ia rasakan dikala ia mengalami hal yang sedemikian rupa ini. Cinta ia masih tak mengerti arti cinta kepada lawan jenis. Mungkin dia akan mengerti suatu saat nanti bersama pangeran berkuda putihnya nanti.


Konyol rasanya kalau memikirkan kembali apakah benar yang ia rasakan itu bernama cinta atau hanya sekedar angan belaka. Ingin rasanya belajar dan menuntut ilmu tentang cinta. Ahhh andaikan saja itu memang benar ada. Ya tempat kita bisa belajar mengerti cinta kepada lawan jenis tanpa rasa main-main tentunya.
****



Keberangkatannya di minggu pagi tak iring membawanya akan secercah angan tentangnya. Tentang pria itu. Pria yang baru dikenalnya sepintas lalu. Pria yang membuatnya mabuk-kepayang. Bayangan akan sosok pria itu pun menghantuinya di setiap denyut nadi gadis itu. Bahkan ketika tidur pun ia masih bisa bertemu dengan sosok pria itu di alam mimpinya. Suatu hal yang sangat menakjubkan bagi gadis itu. Karena sampai detik ini ia masih bingung bagaimana caranya agar dapat menyingkirkan sosok pria itu didalam relung hati dan pikirannya. Berbagai macam cara telah coba ia lakukan. Mendengarkan lagu yang menurutnya seperti motivator untuknya agar dapat melupakan pria itu tapi nyatanya itu hanya sia-sia belaka yang tak berujung. Karena sampai detik ini pun ia masih memikirkan pria itu disetiap detik denyut nadinya.


Keberangkatan yang gadis itu lakukan menurutnya merupakan petualangannya atau kelananya akan cinta. Besarnya doa  dan cinta yang selalu menyertai gadis itu dari sang ibundanya tercinta membuat gadis itu memberanikan diri melakukan perjalanan singkatnya itu untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya itu. Perjalanan yang bagi sebagian orang tidak ada artinya. Perjalanan mencari dan terus mencari. Mencari tahu apakah ia dapat bertemu kembali dengan pria pujaan hatinya tersebut ataukah hanya harapan kosong yang akan ia bawa pulang nantinya. Gelisah pun menyelimuti dirinya. Akankah ia bisa bertemu kembali dengan sosok itu. Dan apakah niat yang digenggamnya erat itu sudah sangat bulat untuk dapat bertemu kembali dengan pria satu itu. Ya satu dan satu-satunya yang saat ini berhasil merobek perhatian gadis itu akan ketertarikan dengan lawan jenis. Selain bayangan akan memori tentang almarhum ayah sang gadis yang tak pernah luntur sedetikpun dari pikiran gadis itu.


Semangat juangnya harus patah oleh keadaan. Kecewa namun tak berhak untuk menuntut. Itulah yang gadis itu rasakan hingga saat ini. Namun satu hal yang pasti ia rasakan. Ia bahagia dengan perjalanannya ini. Karena baginya pergi seorang diri ketempat yang sebelumnya belum pernah ia datangi,  dan tak mudah untuk melakukan hal itu mungkin bagi gadis lain seumurannya. Ahh entahlah atau mungkin memang ada gadis-gadis unik seperti dirinya itu di dunia ini. Melawan rasa takut dengan rasa keberanian, tekad, niat, doa, dan usaha yang masih bagaikan butiran debu itu membuatnya harus kembali berpikir. Akankah dia akan tetap memikirkan pria itu atau tidak. Pria yang dihormatinya karena perlakuannya yang luar biasa sangat menghargai seorang wanita (sebut saja dari keluarga pria itu).


Tak ada dendam apalagi keinginan untuk membenci pria itu. Hanya saja ia kini kembali berpikir dan berkata pada dirinya sendiri. Bukan aku ataupun aku dan dia (red: pria pujaan hati sang gadis) yang akan bersama-sama nanti. Mungkin kita akan memiliki pasangan masing-masing dan saling hidup bahagia bersama pasangan masing-masing.


Tapi dia masih saja berpikir untuk terus melakukan banyak hal agar dapat melupakannya. Dan bagaimana bisa semakin ingin melupakan tentangnya semakin susah pula raga ini melupakannya.


Tanpa hasil. Itulah yang terjadi. Dan seperti apa yang gadis itu selalu sediakan. Ia selalu menyiapkan kantong emosi. Ya emosi untuk bersabar dan menerima kenyataan bahwa ternyata ia hanya membawa pulang kekosongan dalam benaknya. Kosong dan hampa. Berpikir kembali mengapa bisa terjadi seperti ini. Dia memang telah menyiapkan dan selalu menyiapkan perasaan akan setiap apa yang akan terjadi pada dirinya. Gadis yang berhati tulus itu terus-menerus memikirkan akan hal positif yang sedang terjadi. Mungkin bukan salah sang pria karena akhirnya mereka tidak dapat bertemu pikir gadis itu kemudian. Mungkin memang kali ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bertemu kembali. Sang gadis hanya pasrah dan hanya bisa meluapkannya dengan butiran kecil mutiara yang diproduksi oleh kedua bola mata indahnya. Merenungi didalam perjalanan pulangnya. Merenung ini bukanlah kesalah pria itu. Melainkan kesalahan gadis itu sendiri karena terlalu berangan akan hal indah yang akan ia lalui bersama pria itu. Yang akhirnya harus diterima gadis itu dengan kekecewaan dan kepahitan yang teramat-sangat. Tak ada kata menyesal sedikitpun. Hanya saja sedikit rasa haru mampir dalam diri gadis itu. Sepi senyap hampa kosong dan mungkin tragis dapat sedikit menggambarkan tentang perasaannya saat itu. Kemudian hambarlah yang kini menyelimuti keduanya. Tak ada lagi kabar yang gadis itu dapatkan tentang pria pujaan hatinya itu. Kini gadis itu hanya berharap agar pria itu selalu mendapatkan kebahagian yang dia inginkan. 

Dan seperti tanpa jeda. Tiada sedikitpun gadis itu dapat melupakan pria yang dikaguminya itu.

2 komentar:

  1. Sebenarnya sih mbak, semakin kita mencoba melupakan semakin sulit kita melakukannya jadi sibuk lah dengan aktivitas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa bener semakin ingin dilupakan justru membuat beberapa org malah makin galau karena bayangan akan org tsb justru selalu muncul.
      Selain coba banyak kegiatan salah satu caranya ya memang harus benar2 move on hehehe :D.

      Hapus