Jumat, 13 September 2013

Teman Sepermainan ~




Judulnya sih emang teman sepermainan tapi backsong dari tulisan ini malahan lagu "bukan permainan" dari Gita Gutawa. Entah kenapa mungkin karena sama-sama bertemakan permainan kali ya? :p .


Bermain adalah hak semua anak, itu yang selalu Alm. Ayah sampaikan ke aku.
Dan aku pun sangat bersyukur karena Ayah dan Ibu termasuk orangtua yang memberikan hak itu kepadaku. 
Dulu waktu umur tiga tahun aku bahkan bisa mandi hujan dengan bebas dan ceria di malam hari, itu semua karena mereka tahu masa kecil tidak akan pernah terulang untuk yang kedua kalinya.

Bermain di bawah terik matahri dan di tanah lapang juga salah satu kebiasaanku waktu kecil dulu. Tapi sayang, kini tanah lapang sudah jarang di temukan di sekitar tempat tinggalku sekarang.
Alhasil anak-anak kecil di masa ini bermain di jala-jalan raya. Miris memang. Tak ada taman bermain apalagi lapangan untuk bermain bola dan yang lainnya seperti waktu aku kecil dahulu.
Tapi walaupun begitu dengan minimya lahan bermain untuk mereka di saat sekarang ini, tidak mengurangi bahkan menghalangi hak mereka bermain. Mereka tetap bisa bermain dari rumah teman yang satu ke rumah teman yang lainnya.

Untungnya tawa dan keceriaan mereka masih dapat aku dengar sampai saat sekarang ini. Walaupun dengan minimnya hiburan yang ada.

Main sepeda roda dua ataupun tiga di sore hari. Lari-larian di waktu bermain.

Berikut ini salah satu dari foto anak-anak kecil di sekitar rumahku disela-sela mereka sedang bermain.

 
Tiar, Zahra, Clara, Enjel, dan Firman ketika
bermain di depan warung klontong di sekitar tempat tinggal mereka.
Sumber Foto (Dokumen Pribadi)


Seperti tak terhalang waktu, mereka bermain di malam hari dengan apa adanya. Aku bahkan tak pernah tau bagaimana mereka bisa akrab bermain seperti itu. Oh, mungkin ini juga yang dinamakan manusia itu makhluk sosial. Tanpa melihat perbedaan yang ada, dan tak kenal usia mereka bermain bersama dalam satu wdah. Yaitu lingkungan tempat tinggal mereka.

Tapi semburat senyum mereka kini harus terhenti sejenak, tak kala salah satu dari teman mereka sudah bermain di surga terlebih dahulu. Zahra gadis mungil dan senyumnya yang menggemaskan harus sama-sama kita relakan kepergiannya. Tidak ada yang percaya memang bahkan satu rukun tetangga di sini. Di sini semuanya hanya bisa mengirimkan doa atas kepergiannya itu.

Mereka memang telah kehilangan satu teman sepermainan. Tapi kecerian dan tawa bahagia mereka ketika bermain tidak boleh hilang begitu saja. Karena bahagia itu harus dimulai dari hal yang mungkin sangat sederhana dan sedini mungkin.

All Alone


Di sini aku berdiri sendiri.

Hanya ada udara dan juga dinding-dinding besar disekelilingku.

Dari lubuk hati yang paling dalam aku berkata "dimana teman-teman ku?"

Kemana mereka, mengapa aku di sini hanya sendiri, tanpa teman atau siapa pun??

Tuhan, apakah aku di takdirkan untuk hidup sendiri tanpa teman??

Ataukah memang mereka yg tidak mau berteman dengan diriku ini??

Aku sungguh tak mengerti apa yang terjadi.

Tapi aku yakin hidupku yang sendiri tidak akan berlangsung selamanya....

Tuhan, aku memohon kepadamu berilah diri ku ini kekuatan di kala aku sedang sendiri....

Teman, ajaklah aku untuk bermain bersamamu, walau hanya sekali seumur hidupku....

Teman, janganlah kau menjauh dri diriku....

Teman, aku tak mau sendiri tanpamu...


Kutemukan diriku terbaring terbujur kaku di atas keramik kamar.

Busa putih keluar dengan volume yang cukup banyak dari mulutku.

Wajahku terlihat pucat..


Dan kemudian Ibu dan Ayah menghampiri dan memeluk erat tubuhku..

Air mata tak tertahankan lagi.. Ibu pingsan di dekapan Ayah ketika melihat sosokku yang sudah tak bernyawa.


Mati dalam kesendirian dan kesepian..

Tanpa ada tangisan dari seorang teman..

 
Ilustrasi