Kamis, 31 Oktober 2013

[Review Novel] Playboy Kapok!




















Dapet playboy? Kerjain Aja!


Judul                     : Playboy Kapok!
Penulis                  : Mumu
Penerbit                : tanda baca
Tahun terbit          : 2007. Cetakan pertama
Tebal                    : 167 halaman
ISBN                    : 979-1182-02-7

 
Sinopsis :
Namanya juga playboy.. sudah pasti jago ngerayu, ngegombal, ngebohong, nge-duain, nge-empatin, dan nge-nge lainnya. Mending kalo serius... playboy doyan banget mengumbar cinta dan tebar pesona ‘buaya darat’-nya sama banyak cewek lain. Nyebelin kan?!

Dan Jesse adalah playboy yang siap menaklukkan hati semua wanita, Cindy, Tasha, Linda, dan Jen akhirnya klepek-klepek bertekuk lutut sama pesonanya. Tapi, gara-gara kenal Rosidah Rosidawaticewek aneh yang penampilannya juga seaneh namanya – maka mulailah berdatangan karma buat Jesse. Ia musuhan sama Alveys, sobatnya yang paling dekat – yang saking merasa dekatnya sampe segala harta benda Alvey juga dianggap miliknya. Jesse juga dikerjain pacar-pacarnya yang mulai tahu kebohongannya, mulai dari telanjang di WC cewek, kumpul (ama) kebo, sampe diusir dari bis kota. Kapok nggak tuch...?! Rasain!

Nah, gelz.. kalo kamu punya pacar rada2 playboy atau ternyata playboy beneran kayak si Jesse, kayaknya kamu harus baca buku ini ampe abis deh.. biar cowok kamu mikir seribu kali sebelum jadi playboy. Ya nggak?!  
***

Novel kelima besutan kak-Mumu ini termasuk Novel lama karya dia yang saya baca secara random. Ya pertama saya membaca novel karya dia yang terbit tahun 2007 (Satu Cinta Sejuta Repot), lalu (Fly to the Sky 2012), (JUMP 2011), (Bangkok The Journal 2013), (Outrageous 2010), serta novel ini yang terbit pada 2007. Dan dari membaca secara random itulah saya melihat perkembangan demi perkembangan di dalam tulisan beliau sampai detik ini.


Novel Playboy Kapok! sendiri merupakan novel karyanya yang saya Review untuk  kali kedua setelah sebelumnya saya mereview novel Bangkok. Dari judulnya kita sudah dapat membayangkan akan apa yang nantinya terjadi  pada si tokoh utama pria dalam novel ini. Yaa playboy yang kena batunya dan kemudian kapok untuk memainkan hati perempuan secara bersamaan lagi.


Kisah yang mengangkat seputar masalah remaja ini lumayan menghibur untuk dibaca walaupun, ketika membacanya saya agak lama. Mungkin karena alur yang panjang dan berbelit-belit yang padahal sudah bisa ditebak akhirnya akan seperti apa jadinya sang tokoh utama pria dalam novel ini pada Bab-Bab awal novel ini.


Namun saya tetap menyukai novel ini karena penulisan akan karekter-karakter yang unik dan kejadian-kejadian menarik yang terjadi di dalamnya.


Jesse sang playboy ulung ini berhasil menjalani hubungan dengan empat perempuan sekaligus yang tentunya tidak berada dalam satu sekolah secara bersamaan. Ternyata selain mempunyai sifat buruk sebagai seorang playboy, Jesse juga orang yang gengsian dan egois. Tapi memang dasar buaya dia yang punya kelakuan buruk seperti itu pun dapat menggaet banyak perempuan dalam waktu yang sama.


Jesse sering tidur di rumah sahabatnya yang bernama Alvey, ketika kemudian cewek yang ditaksir Alvey berhasil menjadi konflik diantara persahabatan keduanya. Jesse melukai perasaan sahabatnya sendiri karena adanya perempuan itu – Rosidah Rosidawati. Klimaksnya mereka pun bermusuhan dan menjauhkan diri satu sama lain. Tapi ternyata semua itu juga hanyalah ego keduanya yang malu untuk memulai bermaaf-maafan.


Kejadian demi kejadian yang dialami Jesse membuat dia bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kehidupan dirinya. Namun Jesse si buaya tak memiliki firasat apapun ketika sampai akhirnya ia mengalami insiden demi insiden putusnya hubungan Jesse dengan para pacarnya itu secara berturut-turut.

Malang tak dapat ditolak, mujur pun dapat diraih” hehehe.. mungkin itu kata yang dapat menggambarkan mengenai akhir dari lika-liku kisah hidup seorang Jesse dalam novel ini.

***



Ada banyak keunikan yang terjadi ketika saya membaca novel ini... Entah kebetulan atau apalah namanya itu. tapi di sini memang terjadi banyak sekali kebetulan-kebetulan yang terjadi.


Pertama, cowok dalam cover novel ini mengenakan kaus berwarna merah. Dan ketika membaca novel ini saya sedang mengenakan kaus yang juga berwarna merah. Hahaha..

Kedua, nama-nama tokoh didalam novel ini mirip dengan nama-nama teman SMP saya.

Ketiga, ternyata saat novel ini terbit saya sedang mengenyam pendidikan di bangku Sekolah Menengah Pertama.

Keempat, yaitu novel ini terbit ketika penulis - kak Mumu hendak berusia dua puluh tahun.

Dan, terakhir saya membaca novel ini ketika saya sudah memasuki usia diatas tersebut. Yaa di usia dua puluh tahun ini saya baru membaca nobel karya beliau secara bersamaan dan random :D








yeaaay ada tanda tangan penulisnya :D




Nahh klo ini foto penulisnya waktu usia berapa ya??  :P


Selasa, 29 Oktober 2013

[Review Novel] First Time in Beijing by Riawani Elyta




Nostalgia kisah cinta semusim lalu




Judul : First Time in Beijing
Penulis : Riawani Elyta
Penerbit : Bukune
Tahun Terbit : 2013
Kategori : Novel fiksi
Genre : Travel Literature, Romance
Harga : Rp. 55,000


Sinopsis :

“Saat pahitnya kenyataan mengitari gadis itu dari segenap arah, dia hanya punya satu pilihan : menjalaninya.”

Langit Kota Beijing berpesta, pijar warna kembang api terlontar berganian ke angkasa. Gemuruh seketika melenyapkan suara-suara yang meriung di segenap kota. Namun, hati gadis itu senyap, bagai butir salju yang musim lalu jatuh di balik jendela.

Di Kota ini, kakinya menapak pasti di tangga-tangga Tembok Raksasa yang berkuasa. Ia mulai jatuh cinta pada kota ini, pada aura ganjil gerbang Kota terlarang yang dahulu dilewati raja-raja. Mungkin pula, ia telah jatuh cinta kepada dia --- laki-laki itu --- dalam aroma rempah yang menguar dari sup hangat hasil racikan tangannya.

Kemarin, di Tembok Raksasa, ia tergelincir karena kerikil kecil. Kakinya sempat tak setia. Namum, kesetian tetap membutuhkan kerikil, bukan? Agar kita tahu apakah satu kerikil saja bisa menghancurkan kesetiaan yang telah dipupuk.

“Mungkin ini salahku, tak mendengar suara hati saat berada di dekatmu.”
Lisa menatap dalam mata senja, membayangkan laki-laki itu berada di sana. Menunggunya.
****


Novel First Time in Beijing adalah salah satu dari sepuluh novel seri Setiap Tempat Punya Cerita Season I. Novel ini berhasil menarik perhatian saya dengan judulnya yang membuat saya penasaran tentunya akan isi dari ceritanya.

Berkisah mengenai perjalanan Lisa untuk pertama kalinya ke Negeri tempat kelahiran Ayahnya. Ya First Time in Beijing.. membawa Lisa akhirnya dapat bertemu dengan Ayah kandungnya setelah berpisah belasan tahun lamanya. Setelah kepergian sang Ibunda ia diminta oleh Ayahnya untuk tinggal di Kota Beijing bersama dengan keluarga baru Ayahnya.

Ternyata rasa pahit setelah kehilangan orang yang Lisa cintai kembali terjadi. Ketika dirinya merasa asing saat bertemu dengan keluarga barunya. Dua kakak laki-laki tiri, seorang adik perempuan tiri, dan juga Ibu tiri. Mereka seperti tak menghiraukan kehadiran Lisa di tempat tinggal mereka.

Keinginan Lisa untuk dapat mengenyam pendidikan di negeri ini pun harus pupus karena keinginan sang Ayah agar Lisa dapat terus melanjutkan bisnis restoran milik ayahnya. Tanpa ayahnya duga, ternyata putrinya itu tidak bisa memasak dan tidak mengerti bagaimana cara memasak suatu makanan kecuali mie instant.

Lisa kembali harus beradaptasi dengan orang-orang yang baru dikenalnya di lingkungan restoran milik ayahnya. Dia juga disuruh oleh ayahnya untuk mengikuti kursus bahasa agar dapat berkomunikasi dengan bahasa penduduk sekitar.

Tak hanya perjuangan dan kerja keras yang harus ia lakukan selama bekerja di restoran ayahnya. Tapi juga gejolak perasaan aneh yang menghampiri dirinya dengan salah seorang juru masak restoran tersebut. Perasaa yang tiba-tiba menjadi cinta namun tak berani ia ungkapkan. Dan pada akhirnya ia bertemu dengan Alex, pria pemandu wisata asal Indonesia yang kini menjadi teman dekat Lisa di Kota ini.
***

Novel ini berhasil membangunkan mood saya untuk kembali mulai membaca lagi. Isinya yang mengalir juga bagian-bagian yang mampu membuat saya ketika membacanya geregetan adalah hal menarik lainnya dari novel ini. Ada haru yang juga terselip ketika saya membaca novel ini pada halaman 121-122. Keharuan yang mengingatkan saya akan kenangan bersama dengan almarhum ayah saya semasa beliau masih hidup.

Banyak fakta yang menarik yang ditulis dalam novel ini. Tentang latar belakang tokoh dalam novel ini dan juga bagaimana kehidupan para tokohnya. Perasaan yang dikelola dan dibuat seperti dalam kebimbangaan ketika seseorang menyatakan cinta.

Setting tempat yang mampu mendeskripsikan kedaan yang ada di Kota Beijing juga membuat pembaca mampu berimajinasi dalam halaman demi halaman novel ini. Kultur dan budaya yang digambarkan juga mengingatkan saya tentang kebenaran akan apa yang memang terjadi di kehidupan nyata.

Emosi para tokoh tertuang dengan apik, dan mampu memainkan emosi pembaca ketika melahap novel ini. Konflik yang dibentuk juga beragam dan tak menjenukhan untuk dibaca. Semua kembali kepada waktu yang akan menjawab itulah isi dari novel ini.

Banyak kata-kata indah yang terangkai dari novel ini yang mengalir begitu saja bagaikan motivator untuk diri saya pribadi.

“Kehilangan dapat berubah menjadi berkah! Hanya saja, aku belum mampu melihatnya. Mungkin nanti, di akhir perjalanan ini.” – Lisa


“Aku percaya, impian adalah wujud prasangka manusia pada Tuhan. Suatu hari nanti, Tuhan pasti akan mendekatkan kita pada impian itu, sepanjang kita pun berusaha keras untuk meraihnya.” - Lisa


“Kesulitan seharusnya mendorong kita untuk menaklukkannya, bukan malah membuat kita menyerah.” – Daniel
“Waktu memang selalu berputar lebih cepat dari kesadaran kita. Tapi kamu percaya, kan? Kalau kekuatan cinta bisa membuat hal-hal tak terduga bisa terjadi di muka bumi?” – Al

Cerita cinta yang membuat saya ketika membacanya menebak-nebak akankah Lisa berjodoh dengan Daniel ataukah dengan Alex.


Kamis, 24 Oktober 2013

Tanpa Judul.


Tanpa Judul.


Bukan karena malas memberi judul tapi justru bingung judul apa yang mau ditulis. Awalnya sempat terpikir akan judul “From Jakarta to Bandung with Love” *eaa maksud Love disini sendiri ya itu karena kisah ini merupakan kisah tentang perasaan cinta *eaaa lagi hahaha..


Tapi ragu akan judul itu (red: judul From bla..bla..bla) dan malah mikir-mikir judul yang pas tapi ga nemu di rak-rak dalam memori otak ini (berasa Sponge Bob fiuhh) ya sudahlah jadinya tulisan ini diberi judul yaaaa “Tanpa Judul” hahaha.  Jangan pusing yaaa ;))


Kisah ini tidak untuk dimengerti ataupun dipahami simak sajalah kisah ini seperti waktu yang terus berganti. Tanpa kita tahu dimana ujungnya dan seperti apa akhir dari perjalanan dan perjuangan dari sang pelaku.


Mungkin ada yang salah dengan perasaan ini. Mungkin kurang tepat jika harus merasakannya sedangkan kita masih terlalu dini dalam mengenal satu sama lain. Yaa peraasaan bersalah dan tidak tepat akan situasi ini pun akhirnya disadari sang pelaku. Kini dia sadar bahwa dia belum mengerti apa arti cinta kepada lawan jenis. Yaa karena selama belasan tahun dalam hidupnya Ia hanya mencintai keluarganya begitu juga sebaliknya. Yaa perasaan cinta yang murni dan sangat murni yang gadis itu terima dan berikan kepada kedua orangtuanya serta keluarganya yang lain belum pernah Ia bagi sebelumnya dengan pria manapun dalam hidupnya.


Duka itu memang perih rasanya tak bisa habis dan hilang dalam sekejap. Gelisah dan kecewa sempat harus Ia rasakan dikala ia mengalami hal yang sedemikian rupa ini. Cinta ia masih tak mengerti arti cinta kepada lawan jenis. Mungkin dia akan mengerti suatu saat nanti bersama pangeran berkuda putihnya nanti.


Konyol rasanya kalau memikirkan kembali apakah benar yang ia rasakan itu bernama cinta atau hanya sekedar angan belaka. Ingin rasanya belajar dan menuntut ilmu tentang cinta. Ahhh andaikan saja itu memang benar ada. Ya tempat kita bisa belajar mengerti cinta kepada lawan jenis tanpa rasa main-main tentunya.
****



Keberangkatannya di minggu pagi tak iring membawanya akan secercah angan tentangnya. Tentang pria itu. Pria yang baru dikenalnya sepintas lalu. Pria yang membuatnya mabuk-kepayang. Bayangan akan sosok pria itu pun menghantuinya di setiap denyut nadi gadis itu. Bahkan ketika tidur pun ia masih bisa bertemu dengan sosok pria itu di alam mimpinya. Suatu hal yang sangat menakjubkan bagi gadis itu. Karena sampai detik ini ia masih bingung bagaimana caranya agar dapat menyingkirkan sosok pria itu didalam relung hati dan pikirannya. Berbagai macam cara telah coba ia lakukan. Mendengarkan lagu yang menurutnya seperti motivator untuknya agar dapat melupakan pria itu tapi nyatanya itu hanya sia-sia belaka yang tak berujung. Karena sampai detik ini pun ia masih memikirkan pria itu disetiap detik denyut nadinya.


Keberangkatan yang gadis itu lakukan menurutnya merupakan petualangannya atau kelananya akan cinta. Besarnya doa  dan cinta yang selalu menyertai gadis itu dari sang ibundanya tercinta membuat gadis itu memberanikan diri melakukan perjalanan singkatnya itu untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya itu. Perjalanan yang bagi sebagian orang tidak ada artinya. Perjalanan mencari dan terus mencari. Mencari tahu apakah ia dapat bertemu kembali dengan pria pujaan hatinya tersebut ataukah hanya harapan kosong yang akan ia bawa pulang nantinya. Gelisah pun menyelimuti dirinya. Akankah ia bisa bertemu kembali dengan sosok itu. Dan apakah niat yang digenggamnya erat itu sudah sangat bulat untuk dapat bertemu kembali dengan pria satu itu. Ya satu dan satu-satunya yang saat ini berhasil merobek perhatian gadis itu akan ketertarikan dengan lawan jenis. Selain bayangan akan memori tentang almarhum ayah sang gadis yang tak pernah luntur sedetikpun dari pikiran gadis itu.


Semangat juangnya harus patah oleh keadaan. Kecewa namun tak berhak untuk menuntut. Itulah yang gadis itu rasakan hingga saat ini. Namun satu hal yang pasti ia rasakan. Ia bahagia dengan perjalanannya ini. Karena baginya pergi seorang diri ketempat yang sebelumnya belum pernah ia datangi,  dan tak mudah untuk melakukan hal itu mungkin bagi gadis lain seumurannya. Ahh entahlah atau mungkin memang ada gadis-gadis unik seperti dirinya itu di dunia ini. Melawan rasa takut dengan rasa keberanian, tekad, niat, doa, dan usaha yang masih bagaikan butiran debu itu membuatnya harus kembali berpikir. Akankah dia akan tetap memikirkan pria itu atau tidak. Pria yang dihormatinya karena perlakuannya yang luar biasa sangat menghargai seorang wanita (sebut saja dari keluarga pria itu).


Tak ada dendam apalagi keinginan untuk membenci pria itu. Hanya saja ia kini kembali berpikir dan berkata pada dirinya sendiri. Bukan aku ataupun aku dan dia (red: pria pujaan hati sang gadis) yang akan bersama-sama nanti. Mungkin kita akan memiliki pasangan masing-masing dan saling hidup bahagia bersama pasangan masing-masing.


Tapi dia masih saja berpikir untuk terus melakukan banyak hal agar dapat melupakannya. Dan bagaimana bisa semakin ingin melupakan tentangnya semakin susah pula raga ini melupakannya.


Tanpa hasil. Itulah yang terjadi. Dan seperti apa yang gadis itu selalu sediakan. Ia selalu menyiapkan kantong emosi. Ya emosi untuk bersabar dan menerima kenyataan bahwa ternyata ia hanya membawa pulang kekosongan dalam benaknya. Kosong dan hampa. Berpikir kembali mengapa bisa terjadi seperti ini. Dia memang telah menyiapkan dan selalu menyiapkan perasaan akan setiap apa yang akan terjadi pada dirinya. Gadis yang berhati tulus itu terus-menerus memikirkan akan hal positif yang sedang terjadi. Mungkin bukan salah sang pria karena akhirnya mereka tidak dapat bertemu pikir gadis itu kemudian. Mungkin memang kali ini bukan waktu yang tepat untuk mereka bertemu kembali. Sang gadis hanya pasrah dan hanya bisa meluapkannya dengan butiran kecil mutiara yang diproduksi oleh kedua bola mata indahnya. Merenungi didalam perjalanan pulangnya. Merenung ini bukanlah kesalah pria itu. Melainkan kesalahan gadis itu sendiri karena terlalu berangan akan hal indah yang akan ia lalui bersama pria itu. Yang akhirnya harus diterima gadis itu dengan kekecewaan dan kepahitan yang teramat-sangat. Tak ada kata menyesal sedikitpun. Hanya saja sedikit rasa haru mampir dalam diri gadis itu. Sepi senyap hampa kosong dan mungkin tragis dapat sedikit menggambarkan tentang perasaannya saat itu. Kemudian hambarlah yang kini menyelimuti keduanya. Tak ada lagi kabar yang gadis itu dapatkan tentang pria pujaan hatinya itu. Kini gadis itu hanya berharap agar pria itu selalu mendapatkan kebahagian yang dia inginkan. 

Dan seperti tanpa jeda. Tiada sedikitpun gadis itu dapat melupakan pria yang dikaguminya itu.

Kamis, 10 Oktober 2013

[Review Novel Bangkok The Journal]


Novel Bangkok The Journal


Bangkok The Journal sebuah novel dari seri #STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) terbitan GagasMedia karya Moemoe Rizal.


Novel pertama dari seri STPC yang saya baca. Dan saya juga baru tahu kalau novel ini adalah bagian dari seri setiap tempat punya cerita. Saya mendapatkan novel ini secara tidak sengaja dari penulisnya langsung. Ya saya menang kuis dari Giveaway yang kak Moemoe Rizal adakan ketika novel ini mulai terbit.


Tokoh utama pria di novel ini yang bernama Edvan membuat saya membayangkan kalau sosok itu adalah jelmaan kak Moemoe sendiri :p hehehe. Soalnya sebelum novel itu terbit, saya sempat membaca sedikit ulasan novel itu di blog nya kak Moemoe. Jadi Edvan ini berprofesi sebagai seorang arsitek yang mana penulisnya itu sendiri adalah Lulusan Arsitek Perguruan Tinggi Negeri di Kota Bandung. Dan disini Edvan pun berasal kota Kembang Bandung persis seperti penulis aslinya.



Novel Bangkok The Journal ini bercerita tentang Cinta, Keluarga, dan Persahabatan.



Kisah petuangalan seorang Edvan dalam mencari journal warisan Almarhumah Ibundanya di tujuh tempat berbeda di kota Bangkok. Ceriita bermula ketika Edvan sedang merayakan kemenangannya dalam membangun sebuah bangunan cantik di negara Singapura. Saat itu pula ia mendapatkan sebuah kabar yang cukup membuatnya kehilang akan sosok yang sesungguhnya ia sayangi. Edvan yang sudah meninggalkan rumah selama sepuluh tahun terakhir demi menggapai impiannya tersebut di negeri orang, terpaksa harus kembali pulang ke tanah kelahirannya. Edvin sang adik laki-lakinya itu memberi kabar duka tersebut melalui line telepon. Sesampainya di Bandnung Edvan tidak menemukan adik laki-laki satu-satunya yang ia miliki. Ia kehilangan sosok adik laki-lakinya karena Edvin telah berubah total dari yang dia kenal selama hidupnya.



Edvin yang berubah menjadi seorang lady boy terpaksa harus menerima penlakan di awal pertemuannya kembali dengan kakaknya (Edvan). Kisah pencarian tujuh buah jurnal tua di tujuh tempat di kota Bangkok pun harus dilalui dengan berbagai kendala yang ada. Rasa tak percaya akan apa yang dia lakukan pun sempat hinggap di pikiran seorang Edvan dan Edvin pun meyakinkan kakaknya kalau tidak ingin memaksa sang kakak dalam melakukan tugas wasiat dari almarhumah Ibunda mereka.


Benih-benih cinta tiba-tiba saja muncul pada diri Edvan yang memiliki ego tinggi alias kepala batu ketika ia sedang mencari tujuh jurnal tua di kota Bangkok. Seperti apa kisah lengkap dan kelanjutan ceritanya.... yukk cepetan beli di toko buku terdekat dan rasakan hangatnya kisah cinta dari seorang Edvan.





Pokoknya sukses deh untuk Novel Bangkok The Journal ini selain gaya bahasa yang ga terlalu belibet alias ribet dan mudah dimengerti oleh pembaca. Novel ini juga punya daya tarik yang memikat untuk kita ingin bisa pergi mendatangi Bangkok secara langsung. Sekali lagi sukses terus untuk kak Moemoe Rizal penulis Favoritkuuuuu :* semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk aku bikin (nulis) novel duet bareng kak hahaha (mupeng).

Senin, 07 Oktober 2013

SUNDAY ~ SUN



Good Day to Happy People :D

Ohayo!.. it’s amazing or fantastic day for me :)))

Alhamdulillah hari masih memancarkan warna cerahnya. Alhamdulillah sirkulasi udara masih dapat bekerja dengan baik. Alhamdulillah mimpi dapat terlaksanakan.

Oh hai emangnya ada apa dengan hari ini?

Ehm yang pasti hari ini adalah salah satu hari paling menarik di hidup ana.
Kenapa? Dan ada apa?


Jadi hari ini ana menamai perjalan ini dengan Solo Traveling ke Senayan. Nah lho Senayan kan deket, kenapa dikasih nama traveling? Nah itu dia buat ana jalan itu ya traveling mau seberapa dekat jaraknya keren aja kalo disebut traveling hahaha.

Kenapa ke Senayan dan ada apa di sana selain Gelora Bung Karno. Jadi ana ke pergi ke daerah sekitaran Senayan untuk beberapa hal yaaa..untuk memanjakan diri mungkin haha (per-esss).


Solo traveling ini sendiri ana mulai dari rumah pukul setengah sembilan pagi Waktu Indonesia bagian Barat. Pertama perjalanan ana lakukan dengan naik ojek dari rumah sampai Daan Mogot Jakarta Barat. Ana naik transjakarta dari halte situ. Rencana awal itu rute yang mau ana tempuh yaitu dari Daan Mogot ana lanjutkan dengan transit di halte grogol dan lanjut ke pemberhentian di halte JCC Senayan. Namun apa mau dikata. Rencana tinggalah rencana. Karena keadaan kurang mendukung untuk melakukan perjalan seperti yang di inginkan. Rencana semula adalah berangkat dari rumah naik transjakarta ke arah JCC Senayan dan mau wisata kuliner #jajanenak di acara #MightyCulinary. Tapi yang terjadi berubah total. Di Halte transjakarta antrian panjang menuju arah Harmoni bikin geleng kepala. Karena ini antrian terpanjang yang pernah ana lihat selama ini. Ehm mungkin karena ini hari minggu kali ya? *bibir manyun fruitasi* hahaha


Lalu ana milih untuk naik tranjakarta yang menuju arah Kalideres. Namum ketika badan ini sudah masuk Bus dan Bus pun berjalan dengan kurang mulus memang karena keadaan jalur bus yang cukup kacau kemarin. Jadi dari dalam sewaktu bus melaju ana memperhatikan setiap halte transjakarta yang dilalui. Ternyata di setiap halte antiran panjang pun berlangsung. Sampai pada akhirnya ana terpaksa harus turun di pemberhentian terakhir dari koridor 3. Yaa ana akhirnya memilih untuk turun di halte kalideres dan kembali membeli tiket bus. Hem bete yaa lumayan. Di halte kalideres juga antrian ga kurang dari 5 meter. Ya tepatnya antrian lebih dari itu. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya ana bisa menyelupkan tubuh ke dalam bus. Dan enaknya naik bus dari halte utama itu ya gini lumayan masih lenggang ya (read: masih bisa berdiri dengan kiri kanan penuh orang).  Bus melaju dengan riang seperti perasaan beberapa orang yang akan menikmati hari minggunya dengan berlibur ke luar rumah. Sumpek dan berdesak-desakan udah pasti. Tapi selama pikiran masih jernih hal semerawut pun harus dilewati dengan tetap banyak bersyukur. Karena untuk apa merasakan hidup enak kalau tidak bersyukur.


Dari kalideres ana memilih untuk emm transit di halte harmoni. Karena ana sedang diburu oleh waktu yang terus berjalan. Dari halte harmoni ana lanjut menaiki bus transjakarta ke arah Blok M. Di Halte Harmoni sendiri antrian sangat-sangat membeludak. Banyak orang yang kesal dengan situasi ini dikarenakan kurangnya armadu bus yang melayani para penumpang. Ana sendiri ga ngerti dan ga habis pikir dengan kebijakan akan armada Bus yang di sediakan oleh pengelola. Memang makin ke sini makin keterlaluan. Emang sih ada peremajaan bus tapi tetap saja masih kurang karena memang jumlahnya yang sangat kurang. Belum lagi kurangnya petugas di depan mulut bus berhenti. Heran kenapa bukan makin baik tapi malah makin ancur. Dan keadaan makin runyam karena ternyata di beberapa ruas jalur bus sedang dalam perbaikan yang dimana itu membuat gerak bus menjadi memakan waktu lebih lama dari biasanya yang memang sudah lama.


Perjalanan yang lumayan melelahkan karena berangkat dari rumah pukul setengah sembilan pagi nyampe daerah senayan emm ada yang tau jam berapa? Yaaa gitu deh ana nyampe di halte Gelora Bung Karno pukul 11.58 WIB. Fantastik bukan?


Dari halte GBK pintu satu ana melanjutkan perjalanan ini dengan berjalan kaki langkah pelan tapi pasti. Karena sewaktu turun dari bus dada ana cukup sesak, mungkin karena ga tidur uwehehe :p. Jadi ga memungkinkan untuk jalan kaki ngebut toh jarak dari halte menuju tempat yang ana tuju kurang dari 200m. Baguuuus udah bakar berapa kalori tuh yaa hahaha.

Kaki terus melangkah memasuki gedung mal fX Sudirman. Lanjut naik lift ke lantai tiga, ana kira acara yang ingin ana lihat udah mulai ternyata belum. Dan tiba di panggung utama dari rangkaian acara Jakarta Book Fiesta 2013 ternyata sedang berlangsung acara yaa kurang tau itu apa soalnya ana datang 10 menit sebelum acara itu berakhir. Tapi ana cukup terkejut karena di sana ada banyak bahasa asing yang di sampaikan di acara itu. Ada bahasa Jerman, Itali, Suahili, Swedia, dan beberpa bahasa dari benua Eropa wow. Nah pas sesi kuis ada cewek bule yang menyanyikan lagu kodok ngorek dengan bahasa asing. Nah pengunjung disuruh menebak itu bahasa dari negara mana. Terus ana iseng-iseng jawab dari Belanda dan kata si cewek bule dikit lagi kurang tepat. Ternyata cewek bule tadi nyanyi pake bahasaaa...jrengjrengjreng.. ya bahasa Swedia. Ana pikir bahasa Belanda abis mirip hahaha..

Setelah acara pengenalan bahasa itu selesai. Ana memilih untuk ke toilet sebentar untuk cuci muka. Karena pas ngeliat di kaca kagetnya bukan main. Muka kusem banget kena debu jalanan. Ana milih untuk cuma cuci muka aja. Abis kalau pake bedak ana takut acara yang ana tunggu udah dimulai. Eh ternyata balik dari toilet acaranya belum dimulai juga. Hem ngaret seperempat jam *manyum bete*. Tapi sudahlah jangan bete-bete nanti stress dan cepet tua lagi.. idihh ogah amat baru 19th tahun lalu :p eh udah keliput-keliput hih serem.

Dan yang dinanti dan ditunggu-tunggu pun tiba dan hadir juga hahaha.. yaa jadi hari itu Minggu, 6 Oktober 2013... Ana udah menyiapkan diri untuk bisa hadir di acara temu penulis #STPC terbitan GagasMedia. Senangnya bukan main. Ketemu sama beberapa penulis beken sekaligus di satu acara itu luar biasa keren hehe. Penulis-penulis yang hadir antara lain ada kak Prisca dengan novel PARIS, kak Robin dengan novel ROMA, kak Moemoe dengan Bangkok nya, mba Windry Ramadhina dengan London, dan terakhir ada kak Sefry yang menulis novel Tokyo. Dan kemarin itu sekaligus hari pertama peluncuran novel Tokyo nya kak Sefry. Tapi ana ga beli hehehe.. nuggu ada yang ngasih :p *ngarep ga karuan*.

Acaranya sendiri berupa beberapa pertanyaan dari moderator ke masing-masing penulis dan kuis juga tentunya pertanyaan dari para hadirin. Ehm sayang banget kemarin ana ga nanya apa-apa. Padahal sebelumnya banyak banget yang pengen ana tanyain ke penulis-penulisnya. Eh tapi malah nge blank ga tau mau nanya apa. Mungkin karena efek ga tidur dari semaleman kali yaa. Hahaha tapi tetep aja walaupun ga nanya-nanya dan dapat hadiah ana seneng banget soalnya ada beberapa penulis yang belum pernah ana lihat langsung sebelumnya.

Acara di atas panggung ga lebih dari 2 jam. Ehhmm cepet banget acaranya. Soalnya panggungnya mau dipake buat acara selanjutnya *setitik kecewa*. Terus di atas panggung para pembaca di persilahkan untuk yang mau minta tanda tangan bisa langsung maju. Ehm ana minta tanda tangan ke kak Robin, kak Prisca dan kak Moemoe untuk novel seri STPC. Abis minta tanda tangan dan turun dari atas panggung ana milih untuk duduk sebentar dan lanjut lagi nemuin kak Moemoe Rizal buat minta tanda tangan lagi. Hahaha ana bawa lima novel karya kak Moemoe yang belum ada tanda tangannya. Sampe-samp ana ngomong gini ke kak Moemoe. “Sampe hafal ya kak namanya :D” kata ana. “Hafal nama apa?” tanya kak Moemoe. “Hafal nama yang minta tanda tangan hahaha” kata ana tertawa riang :p.


Yapp udah mau pulang dan inget masih ada satu novel yang belum ada tanda tangannya kak moemoe ya udah deh ana minta tanda tangan lagi *pasang muka tembok*. Terus waktu ana minta tanda tangan sama kak Moemoe di belakang panggung kak Moemoe nanya dapat novelnya dari mana, soalnya secara itu novel lama dan langka hehe. Ya ana bilang aja kalo ana beli online di facebook. Udah gitu ada om em (moderator acara tadi) lewat dan kak moemoe ngomong gini. “Jangan di potong ya bayarannya” haha.. “Waktu acara mizan dia bawa buku gagas di acara gagas bawa buku dari penerbit lain” haha.. ana cuma ketawa aja denger kak moemoe ngomong gitu. Soalnya waktu di acara launching buku Blink OMG juga ada temennya kak Moemoe yang bilang nanti honornya di potong ya soalnya udah beda penerbit. Huaaa jangan dong kan kasian :#. Abis minta tanda tangan ana bilang udah dulu ya kak bye.. terus kak Moemoe nanya "mau langsung pulang?” “Oh, egga kak mau main dulu ke TVRI” kata ana. “oh mau ngapain?” tanya kak moemoe lagi dan kali ini mendekatkan tubuhnya ke arah ana. Oh stop jangan lagi ada acara keringet dingin dan salting Pliss kata ana dalam hati. “Ini aku mau ke acara #jajanenak kak di gedung TVRI”
“Oh seru tuh ada apa aja?” tanya kak Moemoe.
“ada banyak jajanan enak dari seluruh nusantara kak”.
“Sampe malem ga acaranya?”
“engga cuma sampe jam lima sore aja kak acaranya.” Jawab ana.
“Oh ya sendirian aja?”
“Iya abis ngajakin temen ga ada yang mau kak hehe.”
“Naik apa kesananya (Gedung TVRI)?”
“Naik Transjakarta sih kak ke harmoni dulu terus ke Slipi dan turun di JCC senayan *sambil mendikte dalam hati, kalau-kalau bener atau engga bakal naik TJ*.”
“Oke hati-hati yaa *sambil senyum sumringah*.”
“Iya makasih kak :D *bales senyum deg..deg..an*.”


Keluar dari gedung fX ana mikir kalau ana milih naik Transjakarta jam berapa nanti ana sampe di TVRI, Ah gila kalo harus naik Transjakarta dan harus ke harmoni dulu yang mana notabene nya halte harmoni itu halte tersibuk dan paling penuh juga sesak. Bad idea klo ana milih naik Transjakarta buang-buang waktu, energi, dan pikiran aja. Udah gitu itu sama aja pendek akal milih jalan yang lebih jauh, lebih panjang, dan lebih lama.


 Lalu setelah sampai di depan fX ana memilih untuk lewat sebelah kiri fX, ana bismillah aja semoga ga nyasar hehe. Ana jalan kaki melintasi kawasan senayan dengan yaa sedikit rasa ga pede juga. Soalnya sepanjang jalan yang ana lihat ga ada tuh orang yang jalan kaki kayak ana. Ah tapi ga peduli. Ana kan cuma mau ke TVRI mau menikmati #jajanenak secara gratis. Haha iya ana dapat voucher senilai seratus ribu rupiah masing-masing lima puluh ribu rupiah dari @ChipIndonesia dan dari @Onyitkawanku. Iseng-iseng berhadiah ikutan kuis di twitter nyebutin alasan kenapa ana pengen banget bisaaa #jajanenak di #MightyCulinary.  Ana jalan kaki muterin kawasan gelora bung karno. Ana pikir ana harus kuat. Ga lucu dong kalo nyampe pingsan seorang diri di jalanan yang jauh dari rumah :/. Sampai saat ana melihat tower TVRI yang sudah menyembul menampakkan keberadaannya. Pikir ana..lega akhirnya keliatan deh itu titik tujuan ana. Langkah kaki semakin cepat karena takut udah sepi di sana. Dan akhirnya alhamdulilah wa syukurilah ana sampai juga di sana dan ternyata masih rame bangettt.. terus ana ngecek hp dan twitter ana buat ngambil voucher #jajanenak di event #MightyCulinary tersebut di booth ajian sedap. Keluar dari booth ana kaget banget dengan apa yang ada di depan mata ana. Teuku Wisnu bersama dengan Ibundanya baru saja selesai makan di acara #jajanenak. Masya allah aslinya lebih ganteng yaa hahaha.. ana sempet mematung ke pinggir waktu Teuku Wisnu lewat.


Terus ana lanjut jalan menuju tenant-tenant peserta yang menjual makanan di #jajanenak #MightyCulinary. Melihat tenant yang menjajakan banyak makanan khas Indonesia membuat ana kebingungan makanan apa yang mau ana beli. Dan akhirnya yang pertama kali ana tuju adalah tenant dari es dawet deKertaon. Eh lumayan kan icip-icip yang seger-seger manis dingin dan ga bikin batuk, gratisan pula :D. Setelah menghabiskan es dawet ana muter-muter lagi di sepanjang lorong tenat-tenant yang ada. Bener-bener membingungkan karena di situ ada puluhan tenant makanan lezat dan mengugah nafsu makan.


Melanjutkan wisata kuliner #jajanenak yang gratisan ini ana memilih untuk menuju tenant chocodot! Sumpah ana udah penasaran banget dengan cokelat-cokelat dari Garut ini. Soalnya chocodot itu sendiri itu maksudnya cokelat yang didalamnya terbenam potongan dodol khas dari Garut Jawa Barat. yaa Garut kan emang udah terkenal dengan dodolnya yang makkknyusss. Tapi sayang ana ga beli cokelat chocodot ana beli (Brodol) brownies dodolnya chocodot dan itu enaknya surga banget. Cokelatnya berasa, kejunya juga, emm rasa marganie bakar yang khas, dan dodol juga cokelat padat yang meleleh ketika di gigit. Ammm nyamnyam.. jangan ngiler yaaa hihihi peace :D. Selanjutnya ana mencicipi Batagor Hanimun. Dan ana baru tau kalo Batagor Haimun ini adanya cuma di Bandung untuk saat ini. Berjalan keluar lorong untuk duduk dan makan batagor yang masih hangat karena memang baru diangkat dari wajan. Tapi rada kecewa karena rasa ikannya ga berasa.


 Ketika duduk-duduk ana berdecak kagum melihat gila udah hampir sore tapi masih rame aja ini pengunjungnya :D. Selesai makan batagor ana masuk lagi dan mengitari tenant-tenant makanan yang ada untuk yang kesekian kalinya. Selesai menghabiskan batagor ana lanjut beli jus strawberry karena ternyata tenggorakan kering banget. Daaaan asyemmm banget jus itu strawberry nyaa.. kayaknya sih ga dikasih gula deh sama penjualnya. Cukup puas setelah icip-icip dan berkeliling ana memilih untuk pulang karena waktu udah menunjukan pukul tiga sore.


Keluar dari gerbang gedung TVRI ana langsung nanya ke Petugas Keamanan gedung yang berada di depan gerbang dimana letak halte transjakarta terdekat. Kata bapak petugas jaraknya cukup jauh dari situ. Okelah akhirnya ana memilih untuk naik bus semacam metromini warna kunig-hijau yang menuju ke arah Slipi. Ana milih naik metromini itu soalnya ana inget waktu SMP kalo pas ngambil nilai lari di Senayan dari Sekolahan ana kadang memilih untuk naik metromini itu. Sampai di Slipi ana lanjut naik kopaja 88 arah kalideres. Akhirnya perjalanan menuju rumah sudah di depan mata.


Kopaja 88 melaju dengan ritme perjalanan sedang. Ga ngebut, ga banyak ngetem dan yaa pas lah pokonya. Sampai akhirnya tiba juga ke titik awal ana jalan. Yaa ana turun dari kopaja di Daan Mogot. Abis turun dari kopaja ana langsung naik ojek langganan ana. Hehe alhamdulillah banget turun langsung menemukan ojek, langganan pula.


Dan pada pukul empat sore lewat ana tiba juga di rumah ana.. ya akhirnya lega rasanya setelah menghabiskan waktu lebih dari tujuh jam di luar rumah. Sampai rumah ana memilih untuk tidur karena udah ga kuat buat mandi. Ga tidur juga dari semalam dan menempuh perjalanan melelahkan membuat badan ini cukup drop. Apalagi  pas sarapan pagi ana lebih memilih untuk makan oat meal instant dan setengah gelas air hangat berisi perasan jeruk nipis.


Tidur jam empat sore ana bangun jam delapan malam. Dan memilih untuk cuci muka mengelap badan ana juga menyikat gigi hehehe. Abis itu ana ngegadoin sayur yang nyokap ana masak. Iya di gado! Alias memakan lauk tanpa nasi. Entah bahasa itu berasal dari mana. Tapi bahasa itu sudah mendarah daging karena ana sering menggado makanan. Alias cuma makan lauk tanpa nasi dan itu suka bikin nyokap ana geleng-geleng kepala karena nasi suka masih nyisa banyak. Hahaha peace mom I’m not rice lover. I’m just rice eater then I want. (Bahasa Inggris ga sesuai raturan).


Oke abis makan alias ngegadoin sayur ana mencoba mencicipi brownies chocodot yang sebelumnya ana anggurin gitu aja. Tapi nyokap udah nyicipin tadi sore dan pas ana bilang itu kalo potongan hitam pekat itu adalah dodol. Nyokap pun langsung lahap mengigitnya dan katanya enak banget.. hehe iya dong mah.. aku kan doyan makan enak :D hahaha. Abis makan brownies ana langsung lanjut tidur lagi deh hehehe :D