Judulnya sih emang teman sepermainan tapi backsong dari
tulisan ini malahan lagu "bukan permainan" dari Gita Gutawa. Entah
kenapa mungkin karena sama-sama bertemakan permainan kali ya? :p .
Bermain adalah hak semua anak, itu yang selalu Alm. Ayah
sampaikan ke aku.
Dan aku pun sangat bersyukur karena Ayah dan Ibu termasuk
orangtua yang memberikan hak itu kepadaku.
Dulu waktu umur tiga tahun aku bahkan bisa mandi hujan
dengan bebas dan ceria di malam hari, itu semua karena mereka tahu masa kecil
tidak akan pernah terulang untuk yang kedua kalinya.
Bermain di bawah terik matahri dan di tanah lapang juga
salah satu kebiasaanku waktu kecil dulu. Tapi sayang, kini tanah lapang sudah
jarang di temukan di sekitar tempat tinggalku sekarang.
Alhasil anak-anak kecil di masa ini bermain di jala-jalan
raya. Miris memang. Tak ada taman bermain apalagi lapangan untuk bermain bola
dan yang lainnya seperti waktu aku kecil dahulu.
Tapi walaupun begitu dengan minimya lahan bermain untuk
mereka di saat sekarang ini, tidak mengurangi bahkan menghalangi hak mereka
bermain. Mereka tetap bisa bermain dari rumah teman yang satu ke rumah teman
yang lainnya.
Untungnya tawa dan keceriaan mereka masih dapat aku dengar
sampai saat sekarang ini. Walaupun dengan minimnya hiburan yang ada.
Main sepeda roda dua ataupun tiga di sore hari. Lari-larian
di waktu bermain.
Berikut ini salah satu dari foto anak-anak kecil di sekitar
rumahku disela-sela mereka sedang bermain.
![]() |
| Tiar, Zahra, Clara, Enjel, dan Firman ketika bermain di depan warung klontong di sekitar tempat tinggal mereka. Sumber Foto (Dokumen Pribadi) |
Seperti tak terhalang waktu, mereka bermain di malam hari
dengan apa adanya. Aku bahkan tak pernah tau bagaimana mereka bisa akrab
bermain seperti itu. Oh, mungkin ini juga yang dinamakan manusia itu makhluk
sosial. Tanpa melihat perbedaan yang ada, dan tak kenal usia mereka bermain bersama
dalam satu wdah. Yaitu lingkungan tempat tinggal mereka.
Tapi semburat senyum mereka kini harus terhenti sejenak,
tak kala salah satu dari teman mereka sudah bermain di surga terlebih dahulu.
Zahra gadis mungil dan senyumnya yang menggemaskan harus sama-sama kita relakan
kepergiannya. Tidak ada yang percaya memang bahkan satu rukun tetangga di sini.
Di sini semuanya hanya bisa mengirimkan doa atas kepergiannya itu.
Mereka memang telah kehilangan satu teman sepermainan. Tapi
kecerian dan tawa bahagia mereka ketika bermain tidak boleh hilang begitu saja.
Karena bahagia itu harus dimulai dari hal yang mungkin sangat sederhana dan
sedini mungkin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar